You are currently viewing Kadin Usul Perjanjian Dagang Internasional Dievaluasi, Kenapa?

Kadin Usul Perjanjian Dagang Internasional Dievaluasi, Kenapa?

Kadin Usul Perjanjian Dagang Internasional Dievaluasi, Kenapa

Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) mengusulkan agar perjanjian dagang internasional yang telah

ditandatangani Indonesia dievaluasi secara menyeluruh. Usulan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan terhadap

industri dalam negeri akibat derasnya arus barang impor dan persaingan global yang semakin ketat.

Kadin menilai bahwa sejumlah perjanjian dagang yang berlaku saat ini belum sepenuhnya memberikan manfaat optimal

bagi industri nasional, khususnya sektor manufaktur dan UMKM.

Alasan Kadin Evaluasi Diperlukan

Menurut Kadin, beberapa perjanjian perdagangan bebas telah membuka pasar Indonesia secara luas, namun belum

diimbangi dengan peningkatan daya saing industri lokal. Akibatnya, produk impor lebih mudah masuk dan sering kali menguasai pasar domestik.

Kondisi ini dinilai berpotensi melemahkan sektor produksi dalam negeri, menurunkan utilisasi pabrik, serta mengancam

keberlangsungan UMKM yang belum memiliki skala produksi dan efisiensi setara dengan produsen asing.

Kadin juga menyoroti defisit neraca perdagangan dengan beberapa negara mitra yang dinilai semakin melebar setelah

implementasi perjanjian dagang tertentu.

Evaluasi Bukan Anti Perdagangan Bebas

Kadin menegaskan bahwa usulan evaluasi ini bukan berarti menolak perdagangan bebas, melainkan untuk

memastikan setiap perjanjian memberikan manfaat yang seimbang. Evaluasi diharapkan dapat menghasilkan

penyesuaian kebijakan yang lebih berpihak pada kepentingan nasional, tanpa melanggar komitmen internasional.

Organisasi ini mendorong pemerintah untuk melakukan renegosiasi pada beberapa klausul yang dinilai merugikan,

khususnya terkait tarif, aturan asal barang (rules of origin), serta perlindungan produk strategis nasional.

Dampak bagi Industri dan Tenaga Kerja

Jika tidak segera dievaluasi, Kadin khawatir tekanan impor akan berdampak pada penurunan produksi dan potensi

pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah sektor. Industri tekstil, alas kaki, elektronik, dan baja disebut

sebagai sektor yang paling rentan.

Sebaliknya, evaluasi yang tepat dinilai dapat memperkuat industri nasional, meningkatkan penyerapan tenaga kerja,

dan mendorong substitusi impor.

Respons Pemerintah

Pemerintah menyambut usulan Kadin sebagai bagian dari masukan konstruktif. Kementerian terkait menyatakan

akan melakukan kajian terhadap perjanjian dagang yang berlaku, dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap

industri, tenaga kerja, dan stabilitas ekonomi nasional.

Pemerintah juga menegaskan komitmennya untuk menjaga keseimbangan antara keterbukaan perdagangan dan perlindungan

kepentingan nasional.

Harapan ke Depan

Kadin berharap evaluasi perjanjian dagang internasional Tuna55 dapat menghasilkan kebijakan yang lebih adaptif terhadap dinamika global.

Dengan kebijakan yang tepat, Indonesia diharapkan mampu memperkuat struktur industrinya, meningkatkan daya saing produk

lokal, serta menciptakan iklim usaha yang sehat dan berkelanjutan.

Usulan ini menjadi sinyal penting bahwa di tengah keterbukaan ekonomi, perlindungan dan penguatan industri nasional tetap

harus menjadi prioritas utama demi menjaga ketahanan ekonomi Indonesia.

Leave a Reply