
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi dalam sepekan terakhir setelah sebelumnya sempat bergerak menguat.
Tekanan jual terlihat cukup konsisten di sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama dari sektor perbankan dan komoditas.
Kondisi ini membuat IHSG bergerak fluktuatif dan akhirnya ditutup melemah secara mingguan.
Koreksi tersebut menandai sikap wait and see pelaku pasar di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Investor cenderung
menahan diri untuk melakukan aksi beli besar, sembari menunggu kejelasan arah kebijakan ekonomi global dan perkembangan
data makroekonomi terbaru.
Sentimen Global Masih Menjadi Faktor Utama IHSG
Analis pasar modal menilai bahwa sentimen global masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan IHSG.
Kebijakan bank sentral Amerika Serikat terkait suku bunga menjadi perhatian utama investor. Sikap hawkish yang masih
terlihat menimbulkan kekhawatiran akan bertahannya suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Selain itu, ketegangan geopolitik di beberapa kawasan dunia turut meningkatkan volatilitas pasar keuangan global. Kondisi
ini mendorong investor global untuk mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, sehingga pasar saham negara
berkembang, termasuk Indonesia, ikut terdampak.
Arus Dana Asing Cenderung Keluar
Dari sisi arus modal, dalam sepekan terakhir tercatat adanya aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing di pasar saham
domestik. Arus dana asing yang keluar menjadi salah satu penyebab tekanan terhadap IHSG, khususnya pada saham-saham
unggulan yang selama ini menjadi favorit investor global.
Analis menyebutkan bahwa keluarnya dana asing lebih bersifat jangka pendek dan dipicu oleh penyesuaian portofolio global.
Investor asing cenderung mengurangi eksposur di pasar negara berkembang saat risiko global meningkat, meskipun fundamental
ekonomi domestik dinilai masih cukup solid.
Fundamental Domestik Dinilai Tetap Kuat
Meski IHSG terkoreksi, sejumlah analis menilai kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam jalur yang
positif. Pertumbuhan ekonomi yang stabil, inflasi yang relatif terkendali, serta kinerja emiten yang masih menunjukkan tren
positif menjadi penopang utama pasar saham ke depan.
Dari sisi laporan keuangan, banyak emiten mencatatkan kinerja Tuna55 yang cukup baik, terutama dari sektor konsumsi, energi, dan
infrastruktur. Hal ini menunjukkan bahwa koreksi IHSG lebih dipengaruhi faktor eksternal dibandingkan tekanan dari dalam negeri.
Prospek IHSG ke Depan
Ke depan, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan dipengaruhi dinamika global dan arah arus dana asing. Analis
menyarankan investor untuk tetap selektif dalam memilih saham, dengan fokus pada emiten berfundamental kuat dan
memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang.
Strategi investasi jangka menengah hingga panjang dinilai masih relevan, terutama dengan memanfaatkan momentum koreksi
untuk akumulasi bertahap. Selama sentimen global belum sepenuhnya kondusif, volatilitas masih berpotensi terjadi, namun
peluang tetap terbuka bagi investor yang cermat membaca arah pasar.