Jack, Bayi Orangutan Korban Duri Sawit, Perlu Penanganan Darurat -Tiga bayi orang utan kini mulai menjalani hari-hari baru di arena bermain
khusus Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam, Kampung Merasa, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Fasilitas ini memang disiapkan bagi bayi orang utan yang kehilangan induknya dan juga membutuhkan dalam pendampingan secara intensif
untuk bisa dalam memulihkan kondisi fisik maupun mental.
Bayi Orangutan Belajar Mandiri di Arena Bermain
Di antara ketiganya, Hannes yang paling senior tampak percaya diri. Ia langsung melompat ke batang pohon dan memanjat hingga ke dahan tertinggi.
Lucas pun tak kalah aktif, bergelantungan lincah seolah tak pernah lelah. Berbeda dengan dua rekannya,
Jack—yang usianya belum genap satu tahun—masih memilih bertahan dalam dekapan penjaganya.
Saiful, animal keeper yang merawat Jack, mengatakan bahwa bayi orang utan termuda itu masih ragu untuk berinteraksi bebas
dengan lingkungan sekitar. Meski sesekali jemari kecilnya mencoba meraih ranting, gerakannya tampak penuh kehati-hatian.
Jack lebih sering kembali ke tempat yang paling membuatnya merasa aman: pelukan manusia.
Bagi Jack, sentuhan perawat menjadi satu-satunya sumber kehangatan sejak ia kehilangan induknya di alam liar.
Saat ini, Jack berada di bawah pengawasan ketat Conservation Action Network (CAN).
Meski telah memasuki fase bermain di luar kandang, trauma fisik dan psikologis masih membekas pada dirinya.
Proses Rehabilitasi Bayi Orangutan Menuju Pelepasliaran
Founder sekaligus Direktur CAN, Paulinus Kristanto, menjelaskan bahwa perilaku Jack yang cenderung menyendiri merupakan respons wajar
bagi bayi orang utan yang baru kehilangan induk. Kondisinya kini jauh membaik dibandingkan saat pertama kali dievakuasi pada 30 November lalu.
Saat ditemukan, kondisi Jack sangat memprihatinkan. Tubuhnya kurus ekstrem dengan skor kondisi tubuh rendah, telapak kaki
mengalami infeksi akibat tusukan duri sawit, disertai demam tinggi dan dehidrasi. Setelah menjalani perawatan medis,
luka di kakinya mulai pulih dan hasil pemeriksaan darah menunjukkan kondisi yang stabil.
Jack pun mulai beradaptasi dan tidak lagi menunjukkan ketakutan berlebihan terhadap manusia.
Jack pertama kali ditemukan warga di Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, Kabupaten Kutai Timur,
dalam kondisi sendirian di bawah pohon kelapa sawit. Setelah dirawat sementara oleh warga,
BKSDA Kalimantan Timur segera melakukan evakuasi untuk memastikan ia mendapat penanganan profesional.
Kepala BKSDA Kalimantan Timur, M. Ari Wibawanto, menegaskan bahwa rehabilitasi Jack di PPS Long Sam
merupakan bagian dari komitmen jangka panjang konservasi orang utan. Tujuannya bukan hanya memulihkan kesehatan fisik,
tetapi juga menumbuhkan kembali naluri liar agar kelak mampu bertahan hidup di alam bebas.
Para animal keeper di CAN kini menghadapi tugas yang tidak mudah: memberi kasih sayang untuk memulihkan trauma,
sekaligus perlahan menjaga jarak agar Jack tidak terlalu bergantung pada manusia.
Setiap asupan susu dan buah yang dikonsumsi Jack menjadi bekal penting menuju masa depan.
Jika proses rehabilitasi berjalan sesuai harapan, BKSDA Kalimantan Timur menargetkan Jack dapat dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya
di kawasan yang telah dipantau. Untuk saat ini, Jack mungkin masih memilih dekapan perawatnya.
Namun setiap sentuhan jemarinya pada ranting di PPS Long Sam adalah pertanda awal bahwa suatu hari
Dia akan kembali berkuasa di kanopi hutan Kalimantan Tuna55.