Isu mengenai rencana penutupan Tokopedia dan penggantiannya dengan TikTok Shop ramai diperbincangkan di media sosial dalam beberapa hari terakhir. Informasi tersebut memicu kekhawatiran di kalangan pengguna dan pelaku usaha digital, mengingat Tokopedia merupakan salah satu pemain besar e-commerce di Indonesia.
Kabar ini pertama kali mencuat dari akun X (sebelumnya Twitter) @ecommurz, sebuah akun yang dikenal kerap membagikan informasi seputar dunia perusahaan rintisan dan industri teknologi. Dalam unggahannya pada Kamis (29/1), akun tersebut menuliskan pernyataan yang mengklaim berasal dari sumber internal Tokopedia. Disebutkan bahwa aplikasi Tokopedia akan dimatikan dan TikTok Shop akan beroperasi melalui aplikasi terpisah miliknya sendiri.
Unggahan tersebut dengan cepat menyebar dan memunculkan spekulasi luas, terlebih setelah berbagai perubahan strategis terjadi di tubuh Tokopedia pasca masuknya TikTok sebagai pemegang saham mayoritas.
Respons Resmi TikTok
Menanggapi isu tersebut, pihak TikTok tidak secara tegas membenarkan maupun membantah kabar penutupan Tokopedia. Juru bicara TikTok hanya menyampaikan bahwa perusahaan akan terus berinvestasi di Tokopedia dan di Indonesia secara umum.
Kami terus berinvestasi di Tokopedia dan Indonesia sebagai bagian dari strategi kami untuk mendorong pertumbuhan dan inovasi yang berkelanjutan, ujar juru bicara TikTok pada Jumat (30/1), sebagaimana dikutip CNBC Indonesia.
Pernyataan tersebut dinilai belum cukup untuk meredam spekulasi, karena tidak secara eksplisit menyinggung kelanjutan aplikasi Tokopedia sebagai platform mandiri.
Pergantian Pucuk Pimpinan dan Akuisisi Saham
Isu penutupan Tokopedia mencuat tidak lama setelah adanya perubahan struktur manajemen. Melissa Siska Juminto, yang sebelumnya menjabat sebagai CEO Tokopedia, digantikan posisinya menjadi komisaris. Melissa diketahui memimpin Tokopedia sejak awal berdiri bersama pendirinya, William Tanuwijaya, yang kini menjadi bagian dari GoTo.
Perubahan ini terjadi setelah GoTo secara resmi menjual 75 persen saham Tokopedia kepada ByteDance pada Januari 2024. Akuisisi tersebut menjadi langkah besar TikTok dalam memperkuat bisnis e-commerce-nya di Indonesia, khususnya setelah sempat menghadapi pembatasan operasional TikTok Shop.
Dampak Restrukturisasi dan PHK
Selain perubahan kepemilikan dan manajemen, Tokopedia juga dilaporkan melakukan pemangkasan tenaga kerja. Berdasarkan informasi yang diperoleh CNBC Indonesia, total sekitar 420 karyawan terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga Agustus 2025.
Rinciannya, sebanyak 180 karyawan lebih dulu di-PHK pada Juli, disusul 240 karyawan lainnya pada Agustus. Pemangkasan tersebut mencakup berbagai divisi penting, mulai dari teknologi informasi (IT), layanan pelanggan (customer care), hingga tim pemenuhan pesanan (fulfillment) dan gudang. Kondisi ini semakin memperkuat spekulasi publik mengenai adanya perubahan besar dalam strategi bisnis Tokopedia.
Persaingan dan Kontroversi TikTok Shop
Di sisi lain, TikTok juga diterpa isu terkait pemberian insentif khusus berupa subsidi iklan hingga 30 persen bagi pedagang asal China yang berjualan di TikTok Shop. Kebijakan tersebut disebut tidak berlaku bagi pedagang Indonesia, sehingga memicu kritik mengenai persaingan usaha yang tidak seimbang.
Namun, dari sisi performa aplikasi, Tokopedia masih menunjukkan posisi yang kuat. Berdasarkan data Sensor Tower, Tokopedia saat ini menjadi aplikasi retail dengan jumlah unduhan terbesar ketiga di Indonesia. Sementara itu, TikTok—yang dikategorikan sebagai aplikasi media sosial—masih mendominasi jumlah unduhan secara keseluruhan di Tanah Air.
Menariknya, meskipun bukan aplikasi e-commerce murni, TikTok justru mencatat nilai transaksi terbesar di Indonesia. Dari sisi pendapatan, TikTok berada di posisi teratas, disusul oleh Google One, Vidio, Facebook, dan CapCut.
Tokopedia Tutup atau Bertransformasi?
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi yang menyebut Tokopedia akan ditutup sepenuhnya. Banyak analis menilai isu ini lebih mengarah pada kemungkinan transformasi bisnis dan integrasi ekosistem antara Tokopedia dan TikTok Shop, bukan penutupan total.
Dengan besarnya basis pengguna Tokopedia dan dominasi TikTok di ranah media sosial dan live commerce, langkah strategis ke depan kemungkinan akan berfokus pada sinergi, bukan penghapusan. Publik pun masih menunggu kejelasan resmi mengenai arah masa depan salah satu e-commerce terbesar di Indonesia tersebut. Tuna55