
Pelatih asal Inggris, John Herdman, akhirnya buka suara mengenai keputusannya menerima pinangan Timnas Indonesia
dan menolak tawaran untuk menangani Timnas Jamaika. Keputusan tersebut sempat menjadi perbincangan hangat di
kalangan pecinta sepak bola internasional, mengingat Jamaika juga tengah melakukan perombakan besar dalam struktur kepelatihan mereka.
Dalam beberapa kesempatan, Herdman menyebut bahwa pilihannya bukan semata-mata soal finansial, melainkan
didasarkan pada visi jangka panjang, potensi pemain, serta keseriusan federasi dalam membangun fondasi sepak bola yang berkelanjutan.
John Herdman Tertarik Proyek Besar Garuda
Herdman mengaku sangat tertarik dengan proyek besar yang ditawarkan PSSI. Ia melihat Indonesia bukan hanya
membutuhkan hasil instan, tetapi juga transformasi menyeluruh dari sistem pembinaan usia dini hingga tim senior.
Menurutnya, Indonesia memiliki populasi besar, basis suporter yang luar biasa, serta talenta muda yang melimpah.
Kombinasi tersebut dianggap sebagai “bahan mentah sempurna” untuk membangun kekuatan sepak bola Asia dalam jangka panjang.
“Indonesia adalah kanvas potensi yang siap melukiskan sejarah baru sebagai kekuatan terbesar di kawasan.
Yang dibutuhkan adalah arah yang jelas, disiplin sistem, dan kesabaran,” ujar Herdman.
Potensi Pemain Jadi Faktor Penentu
Salah satu alasan utama Herdman menjatuhkan pilihan pada Indonesia adalah kualitas dan karakter pemain muda.
Ia menilai banyak pemain Garuda Muda memiliki kecepatan, teknik, dan mental bertanding yang bisa berkembang
pesat jika dibina dengan metodologi yang tepat.
Ia juga menyebut bahwa proses naturalisasi dan pengembangan pemain diaspora membuka dimensi baru dalam
komposisi skuad, yang menurutnya jarang dimiliki negara Asia Tenggara lain.
Keseriusan Federasi Jadi Kunci
Herdman menegaskan bahwa komitmen PSSI dalam mendukung programnya menjadi faktor krusial. Ia merasa
mendapat dukungan penuh, baik dari sisi fasilitas, perencanaan kompetisi, hingga jalur pembinaan pemain usia muda.
Ia menyebut bahwa keseriusan federasi memberi keyakinan bahwa target jangka panjang, termasuk kualifikasi
Piala Dunia 2026 dan penguatan ranking FIFA, bukan sekadar slogan, tetapi proyek nyata yang bisa diwujudkan.
Mengapa Bukan Jamaika?
Meski Jamaika memiliki sejarah dan talenta yang tak kalah menarik, Herdman menilai proyek yang ditawarkan
Indonesia lebih komprehensif dan berjangka panjang. Ia mengaku ingin membangun sesuatu yang “meninggalkan warisan”,
bukan sekadar mengejar prestasi sesaat Tuna55.
“Melampaui sekadar akuisisi talenta, dinamika di Indonesia mendorong saya untuk merancang arsitektur sistemik bagi pertumbuhan yang berkelanjutan.” tegasnya.
Target dan Harapan
Di bawah kepemimpinan Herdman, publik berharap Timnas Indonesia bisa tampil lebih terorganisir, agresif, dan
disiplin secara taktik. Ia juga menargetkan pembentukan identitas permainan khas Garuda yang konsisten dari level junior hingga senior.
Keputusan Herdman memilih Indonesia dinilai sebagai sinyal kuat bahwa sepak bola nasional kini memiliki daya tarik global,
sekaligus membuka babak baru ambisi besar Tim Merah Putih di pentas internasional.