
Presiden terpilih Prabowo Subianto meluapkan kekesalannya terhadap sejumlah direksi Badan Usaha
Milik Negara (BUMN) yang dinilai masih meminta bonus dan fasilitas tambahan, meskipun perusahaan
yang mereka pimpin justru mengalami kerugian. menyebut sikap tersebut sebagai bentuk ketidakpekaan
dan menyindir keras para direksi dengan ungkapan, “Tidak tahu malu, dableg!”
Pernyataan tegas itu disampaikan dalam sebuah forum internal pemerintahan yang membahas evaluasi kinerja BUMN.
Ia menekankan bahwa budaya meminta bonus di tengah kondisi perusahaan yang merugi tidak bisa lagi ditoleransi.
Budaya Bonus Dinilai Tidak Etis
Menurut Prabowo, bonus seharusnya menjadi bentuk penghargaan atas kinerja yang baik dan kontribusi nyata
terhadap keuntungan perusahaan. Namun, ketika BUMN justru mencatat kerugian, praktik pemberian
bonus kepada direksi dianggap sebagai tindakan yang tidak etis dan mencederai rasa keadilan publik.
Ia menilai, kondisi ini menunjukkan masih adanya mentalitas lama yang belum berubah, di mana jabatan
diperlakukan sebagai sarana mencari keuntungan pribadi, bukan sebagai amanah untuk mengabdi kepada negara dan rakyat.
Prabowo Soroti Tanggung Jawab Direksi
Prabowo juga menegaskan bahwa direksi BUMN memiliki tanggung jawab besar karena mengelola aset negara.
Kerugian perusahaan bukan hanya masalah internal korporasi, tetapi juga berdampak pada keuangan negara dan kepentingan publik.
Karena itu, ia meminta Kementerian BUMN dan lembaga pengawas untuk memperketat evaluasi kinerja direksi,
termasuk meninjau ulang mekanisme pemberian insentif, bonus, serta fasilitas lainnya.
Dorong Reformasi Tata Kelola BUMN
Lebih lanjut, Prabowo menyampaikan komitmennya untuk mendorong reformasi tata kelola BUMN agar lebih transparan,
profesional, dan berorientasi pada kinerja nyata. Ia ingin memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan negara,
termasuk untuk gaji dan bonus direksi, benar-benar sebanding dengan hasil yang dicapai.
Prabowo juga menekankan pentingnya menanamkan kembali nilai disiplin, tanggung jawab, dan rasa malu sebagai
bagian dari etika kepemimpinan di tubuh BUMN.
Harapan Perubahan Budaya Kerja
Pernyataan keras Tuna55 ini mendapat respons luas dari publik. Banyak pihak menilai sikap tegas tersebut sebagai sinyal
kuat bahwa era toleransi terhadap kinerja buruk dan privilese berlebihan di BUMN akan segera berakhir.
Ke depan, diharapkan budaya kerja BUMN dapat berubah menjadi lebih profesional, akuntabel, dan berorientasi
pada pelayanan publik, sehingga peran BUMN sebagai tulang punggung perekonomian nasional dapat kembali optimal.